Tambang Ilegal Hantam Sungai Papua: Sungai Rusak, Warga Menderita, Menteri ESDM Mengaku Baru Tahu dari Media
Jayapura Express– Kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang emas ilegal kembali mencuat di Papua Barat. Kali ini, Sungai Wariori dan Wasirawi di Kabupaten Manokwari menjadi sorotan setelah kondisi aliran sungai berubah drastis. Aliran air yang semula jernih kini berganti dengan kubangan besar penuh lumpur, bahkan tercemar zat berbahaya seperti merkuri.
Temuan ini pertama kali diungkap oleh anggota DPR RI asal Papua, Yan Permenas Mandenas, bersama Bupati Manokwari, Hermus Indou. Keduanya meninjau langsung lokasi dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa parahnya kerusakan yang ditimbulkan. Excavator besar terlihat bekerja di badan sungai, meninggalkan bekas galian luas yang merusak ekosistem.
“Kalau tambang ini tidak segera dihentikan, kerusakan yang terjadi bisa permanen. Sungai berubah jadi kolam, air sudah tercemar merkuri, dan masyarakat sekitar yang selama ini bergantung pada sungai jelas paling dirugikan,” tegas Yan.

Baca Juga :The Mukaab Proyek Raksasa Mirip Ka’bah yang Bakal …
Dugaan Ada “Beking” Pejabat
Yan menduga, lambannya penertiban tambang ilegal bukan semata soal keterbatasan aparat, melainkan ada pihak tertentu yang sengaja membiarkan. Ia bahkan menuding ada oknum pejabat yang membekingi kegiatan tambang ilegal ini.
“Mustahil tambang sebesar ini bisa berjalan bertahun-tahun tanpa ada yang melindungi. Peringatan sudah kami sampaikan ke Menteri ESDM sejak tiga tahun lalu, tapi tidak ada langkah tegas sampai sekarang,” ujarnya.
Warga Terdampak: Gagal Panen hingga Ancaman Banjir
Bupati Hermus Indou menambahkan, dampak dari aktivitas tambang ini tidak main-main. Sedimentasi di aliran sungai membuat air mudah meluap, memicu banjir yang merusak lahan pertanian warga. Hasil panen berkurang drastis, bahkan banyak yang gagal total.
“Pemerintah daerah tidak punya kewenangan penuh untuk menertibkan, sehingga kami hanya bisa mendorong aparat hukum dan pemerintah pusat segera turun tangan,” kata Hermus.
Menteri ESDM: Baru Tahu dari Media
Menanggapi temuan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya buka suara. Namun, pernyataannya justru menimbulkan tanda tanya.
“Saya belum mengecek, belum dapat laporan resmi. Saya baru membaca dari media online. Jadi harus diukur dulu validitasnya,” ujar Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Pernyataan ini dianggap kontras dengan kondisi nyata di lapangan, apalagi masalah tambang ilegal di Papua bukan hal baru.
Tuntutan Agar Pemerintah Lebih Tegas
Yan Mandenas kembali mengingatkan bahwa Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR 2025 sudah menegaskan pentingnya penertiban tambang ilegal di seluruh Indonesia. Ia menilai sudah waktunya Menteri ESDM, yang juga putra Papua, menunjukkan keberpihakan nyata.
“Kalau Presiden sudah bicara, seharusnya kementerian bergerak cepat. Apalagi Menteri ESDM ini orang Papua, mestinya lebih berani membela tanah kelahirannya,” tegas Yan.
Kerusakan Tak Boleh Dibiarkan
Kasus ini menjadi gambaran betapa seriusnya persoalan tambang ilegal di Indonesia, terutama di wilayah kaya sumber daya alam seperti Papua. Selain merusak lingkungan, aktivitas ilegal ini juga merampas hak masyarakat adat, mengganggu ekosistem, dan berpotensi menimbulkan konflik sosial.
Masyarakat kini menanti langkah nyata dari pemerintah pusat. Apakah tambang ilegal di Sungai Wariori dan Wasirawi akan segera dihentikan, atau justru dibiarkan berlarut-larut hingga kerusakan makin tak terbendung
















